Minggu, 10 April 2011

Komposisi Investasi : Asuransi, Deposito dan Dinar

Oleh Muhaimin Iqbal
Reposted from HERE

Untuk membuat perbandingan yang adil, data saya ambilkan dari data riil yang benar-benar bisa masyarakat peroleh dan uji di pasar. Untuk contoh aplikasi asuransi saya ambilkan daripenawaran resmi cabang syariah dari perusahaan asuransi yang tergolong terbaik di duniaapalagi di Indonesia. Untuk produk deposito saya ambilkan dari simulasi salah satu Bank Syariah kenamaan di Indonesia dalam situs resminya. Untuk Dinar, harga disimulasikan menggunakan statistik harga selama 40 tahun dari Kitco.


Dari data-data tersebut, angka yang saya ambil sebagi pembanding adalah sebagai berikut :
Untuk asuransi dari tiga scenario hasil investasi 6%, 12% dan 18 % ; saya ambil yang tengah
12 %. Untuk deposito saya ambil bagi hasil bersih setelah pajak yang jatuh pada angka
rata-rata 8%. Untuk Dinar saya ambil dari rata-rata appresiasi nilai emas per tahun dari statistik
40 tahun Kitco, yaitu pada angka 31% / tahun.
Kemudian dana yang diinvestasikan sama yaitu flat Rp 500,000 per bulan sampai 12 tahun
yang akan datang. Setelah itu berhenti dan dibiarkan hasil investasinya terus tumbuh sampai 8 tahun kemudian – total periode 20 tahun.
Pola investasi ini mengikuti pola pembayaran premi asuransi, yang lain (deposito & Dinar)
dasamakan polanya agar bisa disandingkan apple to apple
.
Hasil dari perbandingan ini saya sajikan dalam grafik logaritmik diatas, masing-masing dengan
kekurangan / kelebihan sebagai berikut :

Asuransi
Untuk produk asuransi, di tahun-tahun awal total nilai investasi (pokok dan hasil investasi)
masih sangat rendah, dugaan saya karena besarnya biaya akuisisi yang dibebankan ke premi
yang kita bayarkan. Saya tahu biaya akuisisi asuransi ini bisa sangat tinggi di tahun-tahun awal
bahkan melebihi 50% dari premi yang kita bayarkan.
Biaya akusisi ini selain dalam bentuk komisi keagenan; juga biaya –biaya lain untuk insentif
para agen dan sales team lainnya. Tidak jarang kita baca pengumuman di media ; sekian ratus
agen dari perusahaan asuransi x rame-rame tour ke luar negeri misalnya. Bahkan konon
dengan bangganya ada perusahaan asuransi yang sampai mencarter pesawat untuk mengentertain
para agen dan sales team-nya ini tour ke luar negeri.
Pertanyaannya adalah siapa yang membayar ?; itulah bagian dari premi yang kita bayarkan
yang terkonsumsi untuk apa yang disebut biaya akuisisi.
Tidak heran bila dengan berinvestasi Rp 500,000 per bulan setelah 10 tahun pokok investasi
kita seharusnya sudah mencapai Rp 60 juta; tetapi di penawaran asuransi yang ada di saya
nilai investasi (pokok +hasil investasi) baru mencapai sekitar 58 juta. Kemana pokok investasi
dan hasil investasi kita yang disimulasikan 12 % ?; ya kepotong biaya akusisi tersebut diatas.
Jadi kelemahan mendasar pada produk-produk investasi berbasis asuransi adalah biaya
akuisisi ini; lain produk lain pula struktur biayanya. Oleh karenanya bila kita hendak membeli
produk asuransi, tidak ada salahnya kita cecer agen untuk men-declare struktur biaya yang
akan menjadi beban kita ini.
Namun keunggulan asuransi juga ada, yaitu kalau kita meninggal sewaktu-waktu – meskipun
baru membayar premi sekali, kita dapat memperoleh santunan dari dana tolong-menolong atau
di syariah disebut dana tabarru’.
Kalau saya sendiri, memilih asuransi yang khusus untuk cover risiko saja yang preminya jauh
lebih murah. Nama produk ini macam-macam tergantung bagaimana perusahaan
menamaknannya, namun secara umum nama generik produk semacam ini biasa disebut Term-
Life .

Deposito
Deposito (yang syariah tentunya) adalah investasi yang simple dan straight forward; meskipun
tingkat bagi hasil bersih rata-rata disimulasikan lebih rendah dari asuransi (hanya 8% dalam
contoh perbandingan ini) , nilai investasi kita (pokok plus bagi hasil) sampai periode tertentu
akan lebih besar dari nilai investasi kita di asuransi.
Dalam contoh diatas, setelah 10 tahun ketika nilai investasi asuransi baru mencapai sekitar Rp
58 juta; nilai deposito kita – dengan jumlah tambahan investasi yang sama Rp 500,000/bulan -
sudah mencapai Rp 92 juta !.
Mengapa ada perbedaan hasil yang menyolok dengan asuransi ?, karena di bank tidak ada
biaya akuisisi yang besar seperti biaya akuisisinya produk asuransi.
Namun deposito memang tidak diperuntukkan sebagi proteksi kalau terjadi sesuatu terhadap
kita; untuk ini kita tetap perlu membeli produk asuransi – ya yang preminya murah dan untuk
cover risiko saja – Term-Life tersebut diatas.

Dinar
Dinar adalah emas, oleh karenanya mengalami appresiasi sebagaimana halnya emas. Dalam
40 tahun terakhir emas mengalami appresiasi rata-rata 31 % per tahun. Jadi dengan dana yang
sama Rp 500,000 yang kita belikan Dinar per bulan (karena pecahan, bisa pakai M-Dinar !)
maka setelah 10 tahun nilai Dinar yang kita miliki menjadi sekitar Rp 269 juta !; jauh melebihi
deposito apalagi dana asuransi.
Perbedaan ini menjadi sangat jauh lagi ketika kita lihat pada akhir periode investasi 20 tahun.
Setelah 20 tahun, uang yang kita taruh di asuransi tersebut diatas menjadi Rp 162 juta ; yang
kita taruh deposito menjadi Rp 224 juta dan yang kita jadikan Dinar menjadi Rp 4.1 milyar !.
Mengapa demikian menyolok perbedaannya ?. Bila deposito terkadang tumbuh dibawah inflasi
(contoh tahun lalu, deposito 8 %, Inflasi 11 %); investasi asuransi tergerus biaya akuisisi ; Dinar
selalu berada diatas inflasi dan tidak terkena biaya akuisisi yang besar. Inilah keunggulan
investasi Dinar.
Kelemahannya bukannya tidak ada, ada juga – yaitu untuk jangka pendek bisa saja appresiasi
ini bernilai negatif atau harga Dinar turun; seperti yang terjadi dalam enam bulan terakhir.

Jadi dari ketiga produk tersebut, saya sendiri menggunakan ketiganya (tidak persis sama
dengan produk yang saya ulas tetapi sejenis) dengan komposisi sebagai berikut :

  1. Untuk proteksi kalau terjadi sesuatu sama saya; saya membeli produk asuransi Term-Life
  2. dari perusahaan asuransi yang terkenal/ bonafit.
  3. Untuk keperluan dana jangka pendek, kurang dari enam bulan – saya gunakan
  4. produk-produk perbankan seperti deposito dan tabungan dari bank-bank nasional terbaik.
  5. Untuk investasi jangka panjang saya gunakan Dinar dan usaha-usaha sector riil yang produktif.
Untuk mendisiplinkan pola investasi saya sendiri, selain tiga hal yang saya lakukan tersebut,
ada tiga hal pula yang tidak saya lakukan, yaitu :
  1. Tidak menaruh dana investasi di asuransi (kecuali hanya premi untuk Term-Life saja).
  2. Tidak menaruh dana investasi jangka panjang (lebih dari 6 bulan) di deposito, tabungan dan
  3. sejenisnya.
  4. Tidak menaruh dana untuk kebutuhan jangka pendek (kurang dari 6 bulan) di Dinar.
Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar